Sabtu, 28 April 2018

Makalah Surveilans Gizi Buruk Kel 9 "B" FKM USU 2018


Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh

Kalau post yang tadi, real no copas. Nah, untuk pengerjaan makalah ini sedikit ya copas sana copas sini lah :). But, actually aku nyusun makalah ini yah bisa dibilang hampir di tahap pengerjaan 50%, Tapi, tetep ada kok unsur kerjasama didalamnya, walaupun gak semua kerja :)

Mungkin yang baca kali ini, adalah calon - calon adik - adik FKM yang bakal dapat tugas Surveilans Kesehatan Masyarakat.Ini adalah tugas yang diberikan oleh Bu Fazidah selaku dosen mata kuliah survid :)

Langsung aja kita ke makalahnya dahh :)
KUYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYYY!!!





MAKALAH SURVEILANS GIZI BURUK


DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 9
            151000322                              Sarah Izzaty  
            161000097                              Putri Sahara Aprilia Ginting
161000098                              Minda Wahyuni
161000106                              Dina Lorenza Hutasoit
161000113                              Nurdiba Anum
161000123                              Harry Iswanto
161000161                              Tisya Angreini
161000176                              Apnila Putri Saragih
161000274                              Cindy Natasya


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2018

.....................................................................................................................................................


KATA PENGANTAR


      Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya 
sehingga makalah ini dapat disusun hingga selesai.
Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada pihak yang turut membantu kami dalam menyelesaikan makalah ini.

a)      Kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kemudahan dan
      kesempatan dalam pembuatan makalah ini.
b)      Kedua orang tua, abang, kakak serta adik-adik yang senantiasa  mendo’akan
      dan mendukung penulis.
c)      dr. Fazidah Aguslina Siregar, M.Kes., Ph.D. selaku dosen pembimbing
d)     Staff  Perpustakaan USU yang mengarahkan penulis untuk mencari
      literatur -literatur yang berhubungan dengan makalah penulis.
e)      Teman-teman FKM USU 2016 yang selalu mendorong dan memberi
      semangat kepada penulis untuk menyelesaikan makalah ini sampai
      akhir.


Penulisan ini juga tidak luput dari kesalahan, maka dari itu kritik dan saran yang membangun
sangat kami harapkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih.
     

Medan, Maret 2018

                       

Penulis

......................................................................................................................................................................

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah.............................................................................. 2
1.3 Tujuan ............................................................................................... 3


BAB II PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Surveilans Gizi Buruk..................................................... 3
2.2 Tujuan Surveilans Epidemiologi Gizi Buruk..................................... 3
2.3 Manfaat Surveilans Epidemiologi..................................................... 4
2.4 4 Sistem dan Komponen Kegiatan Survailens Gizi Buruk............... 5
2.2.1 Pengumpulan Data.................................................................. 5
2.2.2 Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data............................... 8
2.2.3 Diseminasi Informasi.............................................................. 12
2.2.4 Tindak Lanjut.......................................................................... 12
2.5  Kelebihan dan Kekurangan Surveilans Epidemiologi Gizi Buru..... 16
2.5.1 Kelebihan Surveilens Gizi Buruk............................................ 16
2.5.2 Kekurangan Surveilens Gizi Buruk......................................... 16

BAB V PENUTUP
5.1 Kesimpulan..................................................................................... 19
5.2 Saran................................................................................................ 19


DAFTAR PUSTAKA.................................................................................... 20



................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN

1.1        Latar Belakang
Berbagai penelitian menunjukkan dampak serius masalah gizi buruk terhadap kesehatan, bahkan terhadap kelangsungan hidup suatu bangsa. Dampak jangka pendek gizi buruk terhadap perkembangan anak antara lain anak menjadi apatis, mengalami gangguan bicara serta gangguan perkembangan lain. Sementara dampak jangka panjang berupa penurunan skor intelligence quotient (IQ), penurunan perkembangan kognitif, penurunan integrasi sensori, gangguan pemusatan perhatian, gangguan penurunan rasa percaya diri serta akan menyebabkan merosotnya prestasi di sekolah.
Kurang gizi juga berpotensi menjadi penyebab kemiskinan melalui rendahnya kualitas sumber daya manusia dan produktivitas. Gizi buruk yang tidak dikelola dengan baik, pada fase akutnya akan mengancam jiwa dan pada jangka panjang akan menjadi ancaman hilangnya sebuah generasi penerus bangsa.
Mengingat dampak yang sedemikain serius tersebut, sudah seyogyanya seluruh potensi dan komponen dikerahkan untuk mencegah dan menangulangi masalah gizi buruk ini. Tindakan penting terkait usaha pencegahan antara lain dengan melakukan kegiatan surveilans epidemiologi masalah gizi ini.
Banyak pengertian surveilans yang sudah umum dikenal selama ini. Antara lain menurut WHO, surveilans merupakan proses pengumpulan, pengolahan, analisis dan interpretasi data secara sistemik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan. Berdasarkan definisi diatas dapat diketahui bahwa surveilans adalah suatu kegiatan pengamatan penyakit yang dilakukan secara terus menerus dan sistematis terhadap kejadian dan distribusi penyakit serta faktor-faktor yang mempengaruhi nya pada masyarakat sehingga dapat dilakukan penanggulangan untuk dapat mengambil tindakan efektif.

1.2       Rumusan Masalah
1. Apa itu surveilans gizi buruk?
           2. Apa tujuan dan manfaat surveilans gizi buruk?
           3. Metode-metode apa saja yang dipakai dalam surveilans gizi buruk?
           4. Apa saja kelebihan dan kekurangan surveilans gizi buruk?

1.3       Tujuan
           1. Untuk mengerti dan memahami apa itu surveilans gizi buruk
           2. Untuk mengetahui tujuan dan manfaat surveilans gizi buruk
           3. Untuk mengetahui metode metode surveilans gizi buruk
           4. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan surveilans gizi buruk



............................................................................................................................................................. 
BAB II
                                                             PEMBAHASAN
                                                                          
2.1 Pengertian Surveilans Gizi Buruk
Menurut WHO, surveilans adalah proses pengumpulan,pengolahan, analisis, dan interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan.
Gizi buruk adalah kondisi gizi kurang hingga tingkat yang berat dan di sebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama, (Khaidirmuhaj, 2009). Gizi kurang adalah gangguan kesehatan akibat kekurangan atau ketidakseimbangan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan, aktivitas berfikir dan semua hal yang berhubungan dengan kehidupan. Kekurangan zat gizi adaptif bersifat ringan sampai dengan berat. Gizi kurang banyak terjadi pada anak usia kurang dari 5 tahun.
Terkait dengan masalah gizi masyarakat di Indonesia, beberapa dasar hukum dan pedoman pelaksanaan surveilans gizi buruk antara lain:
1.      Surat Menteri Kesehatan Nomor: 1209, tanggal 19 Oktober 1998 yang menginstruksikan agar memperlakukan kasus gizi buruk sebagai sebuah kejadian luar biasa.
2.      Keputusan Mentreri Kesehatan RI Nomor: 1116/MENKES/SK/VIII/2003 tentang Pedoman Penyelenggaraan Surveilans Epidemiologi Kesehatan
Pada Kepmenkes di atas, salah satu sasaran surveilans epidemiologi kesehatan adalah pelaksanaan Sistem Kewaspadaan Gizi (SKG) dan Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKG KLB) gizi buruk. Sedangkan berdasarkan surveilans gizi adalah pengamatan yang dilakukan terhadap anak balita dalam rangka mencegah terjadinya kasus gizi buruk.
Sedangkan menurut WHO, praktek surveilans gizi dilakukan dengan melakukan pengamatan keadaan gizi dalam rangka untuk membuat keputusan yang berdampak pada perbaikan gizi penduduk dengan menyediakan informasi yang terus menerus tentang keadaan gizi penduduk, berdasarkan pengumpulan data langsung sesuai sumber yang ada, termasuk data hasil survey dari data yang sudah ada.

2.2 Tujuan Survailens Epidemiologi Gizi Buruk
Surveilans  bertujuan  memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan populasi, sehingga penyakit dan  faktor risiko  dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan respons pelayanan kesehatan dengan lebih efektif.
Tujuan khusus surveilans (Last, 2001; Giesecke, 2002; JHU, 2002).:
1) Memonitor kecenderungan (trends) penyakit
2) Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini outbreak
3) Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease burden) pada populasi
4) Menentukan kebutuhan kesehatan prioritas, membantu perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi program kesehatan
5) Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan
6) Mengidentifikasi kebutuhan riset (Last, 2001; Giesecke, 2002; JHU, 2002).

Tujuan Surveilans Epidemiologi Gizi (WHO) :
1)      Menggambarkan status gizi penduduk dengan referensi khusus bagi mereka yang menghadapi risiko
2)      Menganalisis faktor-faktor penyebab yang terkait dengan gizi buruk
3)      Mempromosikan keputusan oleh pemerintah, baik mengenai perkembangan normal dan keadaan darurat
4)      Memprediksi kemungkinan masalah gizi sehingga dapat membantu dalam perumusan kebijakan
5)      Memantau dan mengevaluasi program gizi. 

Tujuan surveilans gizi buruk adalah untuk pencegahan dan pengendalian penyakit gizi buruk dalam masyarakat, sebagai upaya deteksi dini terhadap kemungkinan gizi buruk, memperoleh informasi yang diperlukan bagi perencanaan dalam hal pencegahan gizi buruk, penanggulangan maupun pemberantasannya pada berbagai tingkat administrasi.
           
2.3 Manfaat Surveilans Gizi Buruk
Manfaat surveilans epidemiologi (SE) yaitu deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya, perhitungan trend, identifikasi pola penyakit, identifikasi kelompok risiko tinggi menurut waktu, orang dan tempat, identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya,deteksi perubahan pelayanan kesehatan yang terjadi, dapat memonitoring kecenderungan penyakit endemis, mempelajari riwayat alamiah penyakit dan epidemiologinya, memberikaninformasi dan data dasar untuk proyeksi kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa akan datang,membantu menetapkan masalah kesehatan prioritas dan prioritas sasaran program pada tahap perencanaan. Inti kegiatan surveilans pada akhirnya adalah bagaimana data yang sudah dikumpul, dianalisis, dan dilaporkan ke pemegang kebijakan guna ditindaklanjuti dalam pembuatan program intervensi yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah kesehatan di Indonesia (HIMAPID dalam Sikumbang 2008).
Melihat dari manfaat Surveilans epidemiologi secara umum, maka manfaat surveilans epidemiologi gizi buruk yaitu:
1.   Dapat diketahui distribusi gizi buruk menurut orang, tempat, waktu, dan kelompok umur pada suatu daerah tertentu dimana dilakukannya surveilans.
2.   Bagi pensurvei (puskesmas), sebagai bahan informasi penting mengenai suatu KLB gizi buruk dan dapat digunakan untuk penentu kebijakan selanjutnya dalam langkah penanggulangan KLB tersebut.
3.   Bagi masyarakat, surveilans epidemiologi gizi buruk dapat dijadikan sebagai informasi dan sebagai bahan masukan agar masyarakat lebih meningkatkan lagi kesehatannya.

2.4  Sistem dan Komponen Kegiatan Survailens Gizi Buruk
Menurut Mason et al (1984), terdapat tiga jenis utama sistem surveilans gizi, yaitu:
1.   Pemantauan gizi jangka panjang sebagai masukan untuk perencanaan nasional, untuk menganalisis dampak kebijakan dan untuk memprediksi kecenderungan masa depan
2.   Evaluasi dampak program gizi dan proyek-proyek tertentu yaitu informasi yang dirancang untuk memungkinkan tanggapan langsung melalui program atau proyek modifikasi
3.   Peringatan dini atau atau sistem peringatan tepat waktu untuk mengidentifikasi kekurangan pangan akut, untuk mendapatkan tanggapan jangka pendek.
Sistem surveilans gizi adalah mengumpulkan data dasar program yang difokuskan pada masalah gizi bayi, anak-anak, dan wanita hamil. Sistem surveilans gizi berfungsi ntuk menyediakan data lokal spesifik yang berguna untuk mengelolaan program gizi kesehatan masyarakat. Sistem ini memberikan informasi yang sangat berguna, tetapi juga ada tantangan metodologis yang berkaitan dengan keterwakilan, pengawasan mutu dan indikator sensitivitas dan spesifisitas.
Komponen kegiatan surveilans gizi buruk antara lain:
1.      Pengumpulan data
Data yang dikumpulkan adalah data epidemiologi gizi buruk yang jelas, contohnya data masalah gizi bayi, anak-anak, dan wanita hamil. Dengan pengumpulan ini dapat terlihat kelompok populasi yang mempunyai risiko terbesar terkena gizi buruk; memastikan jenis dan penyebab gizi buruk; memastikan keadaan yang dapat menyebabkan berlangsungnya KLB gizi buruk; untuk mencatat kejadian gizi buruk secara keseluruhan dan seberapa jauh penyebarannya.
2.      Kompilasi, analisis dan interpretasi data
Data yang terkumpul selanjutnya dikompilasi, dianalisis berdasarkan orang, tempat dan waktu. Analisa dapat berupa teks, table, grafik dan spot map sehingga mudah dibaca dan merupakan informasi yang akurat. Dari hasil analisis dan interpretasi selanjutnya dibuat saran bagaimana menentukan tindakan dalam menghadapi status KLB gizi buruk yang terjadi.
3.      Penyebaran hasil analisis dan hasil interpretasi data
Hasil analisis dan interpretasi data digunakan untuk unit-unit kesehatan setempat guna menentukan tindak lanjut dan disebarluaskan ke unit terkait anatara lain berupa laporan kepada atasan atau kepada lintas sektor yang terkait sebagai informasi lebih lanjut.
Kegiatan surveilans gizi dimulai dengan pengumpulan data, pengolahan dan analisis data, diseminasi informasi dan tindak lanjut/ respon.

2.4.1  Pengumpulan Data
1. Pengumpulan Laporan Rutin Puskesmas
Berikut adalah contoh kasus, yaitu pengumpulan data kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat di Kabupaten/Kota antara lain meliputi pembinaan pencatatan dan pelaporan serta melakukan rekapitulasi hasil kegiatan di Puskesmas/Kecamatan, sebagai berikut :
Data
Sumber Data
Instrumen
Pengumpul Data
Waktu
Gizi Buruk


1.Laporan RS
2.Laporan
Puskemas
3.Laporan Masyarakat/media
Form Laporan Keswapadaan KLB
Gizi di RS Form
laporan bulanan
kasus gizi buruk
1.Tenaga Pelaksana
Gizi (TPG) RS
2.TPG Puskesmas
Setiap bulan dan
Sewaktu-waktu bila
ada kasus
Hasil Penimbangan (D/S)
Laporan Puskesmas
LB3 atau flll Gizi
TPG Puskesmas
Setiap bulan
Asi Eksklusif
Laporan Puskesmas
Form Asi Eksklusif
TPG Puskesmas
Setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)
Garam Beryodium
Laporan Puskesmas
Form pemantauan garam beryodium
Guru Sekolah Dasar
dan TPG Puskesmas
Setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)
Distribusi
Kapsul
Vitamin A
Balita
Laporan Puskesmas
LB3 atau flll Gizi
TPG Puskesmas
Setiap 6 bulan (Februari dan Agustus)
Distribusi
Tablet
Tambah 
Darah
Laporan Puskesmas
LB3 atau flll Gizi
Bidan Koordinator
dan TPG Puskesmas
Setiap 6 bulan

Dalam pelaksanaan pengumpulan data, bila ada puskesmas yang tidak melapor atau melapor tidak tepat waktu, data laporan tidak lengkap dan atau laporan tidak akurat maka
pengelola kegiatan gizi diharuskan melakukan pembinaan secara aktif untuk melengkapi data. Kegiatan ini dapat dilakukan melalui telepon, Short Message Service (SMS) atau kunjungan langsung ke puskesmas.

2. Pengumpulan Laporan Kasus Gizi Buruk
Selain merekap data kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat dari Puskesmas, pengelola kegiatan gizi juga perlu melakukan kompilasi laporan kasus gizi buruk yang dirawat di RS atau informasi dari masyarakat dan media. Bila ada laporan kasus gizi buruk dari masyarakat atau media, pengelola gizi perlu melakukan klarifi kasi ke puskesmas mengenai laporan/informasi tersebut untuk melakukan konfirmasi status gizinya. Klarifi kasi laporan kasus gizi buruk dapat dilakukan melalui telepon dan sms.
Bila hasil konfirmasi ternyata balita tersebut benar gizi buruk (BB/PB atau BB/TB <-3 SD dengan atau tanpa gejala klinis) maka perlu dilakukan pelacakan atau penyelidikan kasus.
Pelacakan kasus meliputi waktu kejadiannya, tempat/ lokasi kejadian dan identitas orangnya termasuk umur, jenis kelamin dan penyebab terjadinya kasus gizi buruk.
Pelacakan kasus gizi buruk dilakukan apabila:
a. Kasus gizi buruk belum mendapatkan penanganan.
b. Kasus gizi buruk terkonsentrasi pada satu wilayah.
c. Dicurigai kemungkinan adanya rawan pangan.
Keluaran yang diharapkan dari langkah pengumpulan data adalah adanya rekapitulasi laporan terkait dengan jumlah puskesmas yang melapor, ketepatan waktu, kelengkapan dan kebenaran data yang dilaporkan.

2.4.2    Pengolahan, Analisis dan Penyajian Data
Pengolahan, analisis dan penyajian data di Kabupaten/Kota dilakukan berdasarkan hasil
rekapitulasi laporan kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat dari puskesmas. Kegiatan ini
dilakukan oleh pengelola gizi setiap bulan, kecuali untuk data pemberian ASI eksklusif 0-6 bulan, pemberian kapsul vitamin A pada balita, dan pemantauan konsumsi garam beryodium tingkat rumah tangga dilakukan setiap 6 bulan sekali.
1.    Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data dapat dilakukan secara manual maupun komputerisasi. Hasil pengolahan berupa cakupan masingmasing indikator Pembinaan Gizi Masyarakat, sedangkan analisis data dilakukan dengan 2 (dua) pendekatan yaitu analisis deskriptif dan analitik.
1.1 Analisis Deskriptif
Analisis deskriptif dimaksudkan untuk memberikan gambaran umum tentang data cakupan kegiatan pembinaan gizi masyarakat. Tujuannya adalah untuk menetapkan daerah prioritas untuk pembinaan wilayah dan menentukan kecenderungan antar waktu.
a. Menetapkan daerah prioritas untuk pembinaan wilayah
Analisis deskriptif untuk membandingkan antar wilayah dilakukan dengan  membandingkan hasil cakupan antar wilayah dengan target yang harus dicapai. Wilayah yang cakupannya rendah harus mendapat prioritas pembinaan. Berikut adalah contoh cakupan D/S berdasarkan wilayah kerja Puskesmas:
    
Tabel 2
Cakupan Balita Ditimbang (D/S)
Menurut Puskesmas Di Kabupaten Teluk Cinta
Tahun 2009
No
Puskesmas
Jumlah Balita
Jumlah Balita Ditimbang
%
1.
Mentari
4168
3293
79
2.
Tenjolaya
3713
3305
89
3.
Karanganyar
4968
3428
69
4.
Sukasari
4326
3764
87
5.
Cimalaya
3836
2954
77
6.
Jatiasri
5646
3613
64
7.
Tegalraya
4947
4502
91
8.
Sukmajaya
6181
5068
82
9.
Mekarsari
4503
3287
73
10.
Tirtamulya
3710
3562
96
11.
Sukamaju
4695
2535
54
12.
Sampurna
6670
6003
90
Kabupaten
57363
45313
79

Dari tabel diatas, cakupan D/S di Kabupaten Teluk Cinta belum mencapai target yaitu masih 79% (target 85%). Disparitas cakupan antar wilayah di Kabupaten ini cukup tinggi, terlihat dari cakupan terendah sebesar 54% di Puskesmas Sukamaju dan tertinggi sebesar 96% di Puskesmas Tirtamulya. Dengan demikian, prioritas pembinaan dilakukan pada Puskesmas Sukamaju (54%) dan Jatiasri (64%) karena cakupannya masih kurang.

b.    Membandingkan Kecenderungan antar Waktu
Analisis deskriptif untuk membandingkan kecenderungan antar waktu di suatu wilayah dilakukan dengan membandingkan hasil cakupan dalam satu periode waktu tertentu dengan target yang harus dicapai. Berikut adalah contoh cakupan D/S dari Bulan Januari sampai Maret berdasarkan wilayah kerja Puskesmas:

Tabel 3
Cakupan Balita Ditimbang (D/S) Bulan Januari Sampai Maret
Menurut Puskesmas Di Kabupaten Teluk Cinta
Tahun 2009
No
Puskesmas
Jumlah Balita
Jumlah Balita Ditimbang
Januari
%
Februari
%
Maret
%
1
Mentari
4168
3293
79
3418
82
3251
78
2
Tenjolaya
3713
3305
89
3453
93
2599
70
3
Karanganyar
4968
3428
69
4123
83
4322
87
4
Sukasari
4326
3764
87
3591
83
3850
89
5
Cimalaya
3836
2954
77
3030
79
2877
75
6
Jatisari
5646
3613
64
4122
73
4573
81
7
Tegalraya
4947
4502
91
4700
95
3908
79
8
Sukmajaya
6181
5068
82
4945
80
4759
77
9
Mekarsari
4503
3287
73
3422
76
3332
74
10
Tirtamulya
3710
3562
96
3339
90
3191
86
11
Sukamaju
4695
2535
54
3521
75
3709
79
12
Sampurna
6670
6003
90
6070
91
5936
89
Kabupaten
57363
45313
79
477734
83
16302
81

Dari tabel diatas, cakupan D/S di Kabupaten Teluk Cinta umumnya meningkat dari 79% pada bulan Januari menjadi 83% pada bulan Februari namun terjadi penurunan menjadi 81% pada bulan Maret. Dapat juga dilihat bahwa secara umum cakupan yang tinggi pada wilayah kerja Puskesmas adalah di bulan Februari.

1.2 Analisis Analitik
Analisa analitik dimaksudkan untuk memberikan gambaran hubungan antar 2 (dua)  lebih indikator yang saling terkait, baik antar indikator gizi maupun indikator gizi dengan indikator program terkait lainnya. Tujuan analisis ini antara lain untuk menentukan upaya yang harus dilakukan bila terdapat kesenjangan cakupan antara dua indikator. Berikut adalah contoh cakupan distribusi kapsul Vitamin A dengan D/S:

Tabel 4
Cakupan Distribusi Kapsul Vitamin A dan D/S
di Kabupaten Teluk Cinta Tahun 2009
No
Puskesmas
Jumlah Balita
Balita dapat Vitamin A
D/S

Jumlah
%

Jumlah

%

1
Mentari
4168
3251
78

2501

60

2
Tenjolaya
3713
2599
70

3342

90

3
Karanganyar
4968
4322
87

4720

95

4
Sukasari
4326
3850
89

2769

64

5
Cimalaya
3836
2877
75

3337

87

6
Jatiasri
5646

4573

81

3557
63
7
Tegalraya
4947

3908

79

3809
77
8
Sukmajaya
6181

4759

77

5872
95
9
Mekarsari
4503

4053

90

4143
92
10
Tirta Mulya
3710

3191

86

2560
69
11
Sukamaju
4695

4319

92

3991
85
12
Sampurna
6670

6003

90

5336
80
Kabupaten
57363

47706


83

45936
80
           
Berdasarkan sasaran Rencana Aksi Pembinaan Gizi Masyarakat ditetapkan bahwa target cakupan Vitamin A dan D/S masing-masing adalah 85%. Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa wilayah yang cakupan Vitamin A dan D/S sudah mencapai target ada 3 Puskesmas yaitu Karanganyar, Mekarsari dan Sukamaju. Sedangkan wilayah yang belum mencapai target adalah Puskesmas Mentari, Jatiasri dan Tegalraya. Puskesmas lainnya hanya mencapai target salah satu indikator saja. Untuk lebih jelasnya dapat dibuat berdasarkan kuadran dengan cara sebagai berikut:
           ·          Buat sumbu X sebagai cakupan Vitamin A dan sumbu Y sebagai cakupan D/S
           ·          Buat garis lurus masing masing sumbu sebagai garis target hingga membelah area menjadi 4 kuadran.
           ·          Kuadran I adalah wilayah dengan cakupan Vitamin A dan D/S tinggi atau diatas target. Kuadaran II adalah wilayah dengan cakupan Vitamin A tinggi namun cakupan D/S rendah, sebaliknya Kuadaran III adalah wilayah dengan cakupan Vitamin A rendah namun cakupan D/S tinggi. Sedangkan kuadran IV adalah wilayah dengan cakupan Vitamin A danD/S rendah.
           ·          Plot titik potong kedua indikator dari masing-masing Puskesmas. Contoh: Puskesmas Mentari mempunyai cakupan Vitamin A 78% dan D/S 60%, lalu plot titik potong kedua garis tersebut. Terlihat Puskesmas Mentari berada pada Kuadran IV.

2. Penyajian Data
Hasil pengolahan dan analisis data kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat dapat disajikan dalam bentuk narasi, tabulasi, grafik dan peta.


2.4.3  Diseminasi Informasi
Diseminasi informasi dilakukan untuk menyebarluaskan informasi hasil pengolahan dan analisis data untuk mendapatkan dukungan dari lintas sektor dan lintas program di setiap
jenjang pemerintahan tentang hasil kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat. Kegiatan diseminasi informasi dapat dilakukan dalam bentuk pemberian umpan balik dan sosialisasi advokasi pada pertemuan lintas program dan lintas sektor.
1. Umpan Balik
Pengelola kegiatan gizi memberikan umpan balik bulanan berbentuk absensi laporan dan hasil cakupan indikator pembinaan gizi ke puskesmas dan rumah sakit. Umpan balik disertai dengan ulasan terhadap hasil yang telah dicapai, kelengkapan data disertai dengan saran-saran yang harus dilakukan oleh puskesmas. Selain hal tersebut, umpan balik hendaknya memuat pula ucapan terima kasih bagi puskesmas yang telah mengirim data secara lengkap dan tepat waktu.
2. Pertemuan Lintas Program dan Lintas Sektor
Diseminasi informasi dapat juga dilakukan kepada lintas sektor, lintas program dan puskesmas melalui pertemuan koordinasi dan rapat konsultasi di tingkat Kabupaten/Kota. Bila memungkinkan diseminasi informasi dapat dilakukan pula melalui media secara berkala. Hasil yang diharapkan dari kegiatan diseminasi informasi adalah disepakatinya upaya pemecahan masalah untuk perbaikan dan peningkatan pelaksanaan kegiatan Pembinaan Gizi Masyarakat.

2.4.4 Tindak Lanjut
Tindak lanjut sebagai respon dilakukan apabila data cakupan indikator Pembinaan Gizi Masyarakat menunjukkan adanya kekurangan atau kesenjangan antara hasil yang dicapai dengan yang seharusnya dicapai. Tindak lanjut terhadap hasil analisis yang bersifat teknis dilakukan oleh pengelola program gizi, sedangkan yang bersifat kebijakan dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Hasil kegiatan dan contoh tindak lanjut dapat dilihat pada tabel 5.






Tabel 5
MATRIKS HASIL KEGIATAN
SURVEILANS GIZI DAN CONTOH TINDAK LANJUT
INDIKATOR
MASALAH
TIDAK  LANJUT
POSYANDU
(DESA/
KELURAHAN)
PUSKESMAS
/KECAMATAN
KABUPATEN/KOTA
Balita gizi buruk ditangani
1. BGM dan
2T dengan atau
tanpa ada tanda
klinis (dugaan
balita gizi buruk ditemukan)
2. Kasus gizi buruk     meningkat
Melaporkan dan Merujuk
a. Klarifikasi dan konfirmasi,
b. Penanganan
balita gizi buruk (termasuk PMT)
c. Merujuk ke
TFC /
PUSKESMAS Perawatan/RS

Penyelidikan dan Pelacakan
a. Menyiapkan Puskesmas Perawatan dari Rumah
Sakit untuk pelaksanaan tatalaksana gizi buruk.
b. Meningkatkan
kemampuan petugas
puskesmas dan Rumah Sakit dalam melakukan surveilans gizi.
c. Memberikan PMT
pemulihan untuk
balita gizi buruk rawat jalan dan
pasca rawat.
d. Melakukan pemantauan
kasus yang lebih intensif
pada daerah dengan risiko
tinggi terjadinya kasus gizi
buruk.
e. Melakukan penyelidikan
kasus bersama dengan lintas program dan lintas sektor
terkait
Balita
ditimbang
berat badannya
D/S rendah










Menggerakan
masyarakat
untuk datang ke posyandu
a. Koordinasi dengan camat dan PKK
b. Pembentukan
forum-forum di
desa
c. Promosi
manfaat kegiatan posyandu
a. Melakukan koordinasi
dengan Camat dan PKK
tingkat kecamatan untuk
menggerakan masyarakat
datang ke posyandu.
b. Memanfaatkan kegiatan
pada forum-forum yang ada
 di desa, yang bertujuan
untuk menggerakan
 masyarakat datang ke
 posyandu.
c. Melakukan promosi
tentang manfaat kegiatan di posyandu
Bayi usia
0–6 bulan
mendapat
ASI Eksklusif
Cakupan rendah
a. Pemberian konseling
oleh motivator
b. Pembentukan
KP-ASI atau
 kelas
 ibu



a. Pemberian
konseling oleh
konselor
b. Pembentukan
KP-ASI atau
kelas ibu
a. Meningkatkan promosi
 dan advokasi tentang Peningkatan Pemberian
Air Susu Ibu (PP ASI).
b. Meningkatkan kemampuan petugas
puskesmas dan rumah sakit
dalam melakukan konseling ASI.
c. Membina puskesmas
 untuk memberdayakan
konselor dan motivator
ASI yang telah dilatih.

Lanjutan Tabel 5
MATRIKS HASIL KEGIATAN
SURVEILANS GIZI DAN CONTOH TINDAK LANJUT
INDIKATOR
MASALAH
TIDAK  LANJUT
POSYANDU
(DESA/
KELURAHAN)
PUSKESMAS
/KECAMATAN
KABUPATEN/KOTA
RT mengonsumsi garam beryodium
Cakupan rendah Ketersediaan
Garam Beryodium dipasar desa rendah
Kepala Desa/Lurah Melapor ke
Puskesmas dan
Camat
Petugas Gizi/Ka. Puskesmas/Camat meminta Dinas
 Peindag untuk melakukan operasi pasar garam
Beryodium
a. Melakukan koordinasi dengan Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten/
Kota untuk melakukan operasi pasar garam beryodium.
b. Melakukan promosi/kampanye peningkatan penggunaan garam beryodium.

Balita 6-59 bulan mendapat kapsul Vitamin A
Cakupan rendah










a. Promosi manfaat kapsul vitamin A
b. Sweeping pemberian kapsul vitamin A
c. Meminta stok kapsul vitamin A

a. Promosi manfaat kapsul vitamin A
b. Menyediakan kapsul vitamin A

a. Bila ketersediaan
kapsul vitamin A di puskesmas tidak
mencukupi maka perlu mengirim kapsul
vitamin A ke puskesmas
b. Bila kapsul vitamin A masih tersedia, maka
perlu meminta
puskesmas untuk
melakukan sweeping.
c. Melakukan pembinaan kepada puskesmas
dengan cakupan rendah.

Ibu hamil
mendapat Fe
 90 tablet
Cakupan rendah
a. Promosi
manfaat TTD
b. Sweeping
 pemberian TTD
c. Meminta stok
TTD


a. Promosi manfaat TTD
b. Menyediakan
TTD
c. Koordinasi
dengan program
KIA
a. Bila ketersediaan
 TTD di puskesmas dan
bidan di desa tidak
mencukupi maka perlu mengirim TTD ke
puskesmas.
b. Bila TTD masih
tersedia, maka perlu
meminta Puskesmas
untuk melakukan
peningkatan integrasi
dengan program KIA khususnya
kegiatan Ante Natal Care (ANC) .
c. Melakukan pembinaan kepada puskesmas
dengan cakupan rendah.

Catatan : Matriks ini hanya contoh, pelaksanaan kegiatan dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi di daerah

2.5 Kelebihan dan Kekurangan Surveilans Epidemiologi Gizi Buruk
2.5.1 Kelebihan Surveilens Gizi Buruk
a)                  Informasi epidemiologi KLB gizi buruk terdistribusi kepada program terkait, pusat-
pusat kajian, dan pusat penelitian serta unit surveilans lain.
b)                  Terkumpulnya data kesakitan dan data KLB gizi buruk di Puskesmas, Rumah Sakit
dan Laboratorium, sebagai sumber data Surveilans Terpadu Penyakit
c)                  Dapat mendistribusikan data kesakitan serta data KLB gizi buruk kepada unit
surveilans Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan unit surveilans Dinas Kesehatan Propinsi.
d)                 Terlaksananya pengolahan dan penyajian data penyakit dalam bentuk tabel, grafik,
peta dan analisis epidemiologi gizi buruk lebih lanjut oleh Unit surveilans Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota dan Dinas Kesehatan Propinsi.
e)                  Dapat mendistribusikan hasil pengolahan dan penyajian data penyakit beserta hasil
analisis epidemiologi lebih lanjut dan rekomendasi kepada program terkait di Puskesmas, Rumah Sakit, Laboratorium, Kabupaten/Kota, Propinsi, Nasional, pusat-pusat riset, pusat-pusat kajian dan perguruan tinggi serta sektor terkait lainnya
f)                   Memantau kemampuan program gizi untuk mendeteksi kasus, menjamin selesainya
pengobatan dan kesembuhan.

2.5.2 Kekurangan Suerveilans Gizi Buruk
                  a)     Permasalahan dalam pencatatan data gizi buruk di pelayanan kesehatan seperti:
1.      Pertama, ketidakakuratan data, terjadi karena pengisian formulir masih dilakukan secara manual sehingga untuk mengisi seluruh formulir baik standar maupun buku bantu terdapat data yang sama ditulis berulang kali, sehingga
2.      mudah menimbulkan kesalahan
2.  Banyak bayi, anak-anak dan ibu hamil yang tidak tercatat dalam program gizi disebabkan karena tidak terpantau bahkan tidak dilaporkan
3.    Kesulitan untuk monitoring pasien selama pengobatan

                  b)    Permasalahan yang berkaitan dengan struktural dan pendanaan , seperti:
1.          Selama ini pelaksanaan surveilans masih bersifat vertikal, dan terpisah
antar satu program dengan program lainnya. Pemerintah pusat telah mengeluarkan Kepmenkes No.1116/SK/VIII/2003 yang mengatur penyelenggaraan sistem surveilans. Kepmenkes ini menyebutkan agar dibentuk unit surveilans dan unit pelaksana teknis surveilans serta dibentuk jejaring surveilans antara unit-unit tersebut. Pengamatan menunjukkan bahwa pelaksanaan Kepmenkes belum berjalan secara maksimal di daerah. Belum ada Perda atau Peraturan Gubernur/Bupati/Walikota yang merujuk ke Kepmenkes. Surveilans saat ini banyak didanai pemerintah pusat. Dana masuk dalam anggaran pusat yang bersifat program vertikal. Tidak ada dana untuk pengembangan surveilans di daerah. Akibatnya jarang sekali dilakukan pencegahan sekunderprimer oleh pemerintah daerah. Respons oleh pemerintah pusat dari kegiatan surveilans lebih banyak ke pencegahan tersier yang mempunyai risiko keterlambatan
2.          Perlu penguatan sistem surveilans di daerah dengan cara penguatan
kedudukan unit surveilans dalam tatanan struktural dinkes dan optimalisasi anggaran, terutama dari APBD. Ada kemungkinan pemerintah daerah merasa bahwa urusan surveilans adalah urusan pemerintah pusat, sehingga pemerintah daerah tidak memprioritaskan program surveilans dan menganggap surveilans tidak terlalu penting. Persepsi pemerintah daerah seperti ini yang menjadikan alokasi anggaran untuk pelaksanaan kegiatan surveilans sangat rendah.

c)  Permasalahan yang menjadi kekurangan dalam surveilens dilihat dari prosesnya
meliputi:
1.      Input, meliputi kurangnya sumber daya manusia, kurangnya peranan kelompok
jabfung, minimnya dukungan anggaran, dan tidak adanya dukungan dari Perda
2.      Segi proses, dinyatakan bahwa jejaring surveilans selama ini tidak ada, belum ada konfirmasi kasus, belum terjadi koordinasi lintas program apalagi lintas sektoral, respon selama ini hanya bersifat by case
3.      Output, kelengkapan dan ketepatan data masih rendah, diseminasi buletin
epidemiologi dan umpan balik pun belum ada di semua daerah, hanya saja di beberapa daerah umpan balik dilakukan dengan pertemuan bulanan dokter, atau ada pula yang memberi umpan balik dengan menyebarkan edaran ke Puskesmas - Puskesmas.


 ................................................................................................................

BAB III
PENUTUP


3.1       Kesimpulan
Surveilans Epidemiologi dapat didefinisikan sebagai rangkaian kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan dalam pengumpulan, analisis, interpretasi data dan penyampaianinformasi dalam upaya menguraikan dan memantau suatu penyakit/peristiwa kesehatan. Tujuan surveilans epidemiologi gizi buruk adalah untuk menggambarkan status gizi penduduk, mengetahui faktorpenyebab gizi buruk, mempromosikan program gizi, memprediksi kemungkinan masalah gizi serta untuk memantau dan mengevaluasi program gizi.
Dengan membuat surveilans epidemiologi kita dapat mengetahui informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan populasi ,sehingga penyakit dan faktor resiko dapat dideteksi dini dan dapat dilakukan respons pelayanan kesehatan dengan lebih efektif. Dibalik kekurangan dan kelebihannya, semua dapat dilaksanakan optimal dengan adanya dukungan dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri.

3.2       Saran
Surveilans kesehatan masyarakat sangat dibutuhkan dalam perencanaan dan penanggulangan penyakit terutama dalam penanggulangan gizi buruk. Maka dari itu, dalam pengoperasian data surveilans haruslah relevan dan akurat sehingga dalam pengambilan keputusan jadi tepat sasaran.



DAFTAR PUSTAKA


1.            https://idtesis.com/pengertian-gizi-kurang/ (diakses pada 19 Maret 2018)

2.            https://www.scribd.com/doc/187407705/143768110-Surveilans-Epidemiologi-Gizi-Buruk (diakses pada 19 Maret 2018)

3.            www.depkes.go.id/new-buku-surveilens-final1 (diakses pada 20 Maret 2018)

4.            ejournal.persagi.org/go/indeks.../sistem-kewaspadaan-pangan-dan-gizi (diakses pada 19 Maret 2018)

5.            Gibney M.J. Dkk. 2009. Public Health Nutrition (terjemahan). Penerbit Buku Kedokteran